Mitos Seks #1 - Gairah seks pria lebih besar ketimbang wanita
Bahan bakar gairah seks adalah testosteron, dan pada pria kadarnya memang
lebih tinggi daripada wanita. Meski begitu faktanya bisa lain. Keluhan
menurunnya gairah seks para pria bertambah dan ini berkaitan dengan gaya hidup,
jadi tidak melulu dipengaruhi hormon.
Mungkin saja kadar hormon testosteron
seorang pria itu hormal, tetapi ia mengalami kelelahan, stres, gairah seksnya
bisa menurun. Usia yang menua, kegemukan, kebiasaan merokok, mengonsumsi
alkohol dan psikotropika, bisa pula berdampak pada ereksi. Jadi, para wanita
jangan percaya mitos. Wanita pun bisa menjadi motivator atau pegang kendali
saat berhubungan seks.
Mitos Seks #2 - Kondom itu tameng sakti untuk segala jenis
penyakit menular seksual
Jika dipakai secara tepat kondom bisa menangkap PMS seperti Hiv, gonorea,
dan klamidia, tetapi tidak cukup efektif untuk mencegah sifilis, herpes genital
atau kutil kelamin. Infeksi penyakit menular seksual bisa menular lewat kontak kulit dan memengaruhi bagian tubuh yang tidak tertutup
kondom. Bagaimanapun, kondom masih bisa mengurangi risiko penularan itu hingga
50 persen.
Mitos Seks #3 - Anda tak bakal kena penyakit menular seksual ( PMS ) dari seks oral
Salah besar! PMS jenis herpes, sifilis, klamidia, gonorea dan uretritis
nonspesifik (peradangan saluran kencing yang kerap dialami pria) bisa terjadi
lewat oral seks. Risiko tertular HIV juga tetap tinggi, terutama bila terdapat
luka di mulut.
Mitos Seks #4 - Orgasme pada wanita bisa membantu mempercepat
kehamilan
Teori di balik mitos ini menyatakan, kontraksi vaginal selama wanita
orgasme membantu spresma melesat untuk membuahi telur. Faktanya, jika sprema
tidak trengginas atau kurang gesit, kontraksi tak cukup kuat untuk mendorongnya
menuju sel telur.
Mitos Seks #5 - Ejakulasi di luar (terputus) tidak menyebabkan
kehamilan
Yang benar, sperma terdapat di dalam cairan seminal yang dilepaskan sebelum
pria mengalami ejakulasi. Jadi, meskipun pria menarik penisnya keluar sebelum
orgasme, pasangannya tetap saja bisa hamil.
Mitos Seks #6 - Wanita tak bisa lagi menikmati seks setelah
menopouse
Justru banyak wanita yang mengaku memiliki hubungan seks terbaiknya setelah
menopause karena tak khawatir akan hamil. Jadi, lebih bebas menikmati seks,
apalagi kini mudah mendapatkan terapi sulih hormon, sehingga gangguan vagina
kering dan sebagainya tak lagi jadi masalah. Enak ‘kan?
Mitos Seks #7 - Risiko tertular hiv kini telah menurun
Ini asumsi yang membahayakan karena HIV masih menjadi salah satu ancaman
serius yang begitu cepat meningkat. HIV merusak sistem imun tubuh, sehingga tubuh rentan terhadap serangan berbagai macam infeksi.
Mitos Seks #8 - Seks haram bagi pengidap jantung
Memang banyak kisah tentang pasien gangguan jantung yang mendapat serangan
ketika tengah asyik berhubungan intim. Pengidap penyakit jantung bisa tetapi
memiliki kehidupan seks yang normal. Namun, jika merasa nyeri dada saat
berhubungan seks, Anda harus berhenti segera dan periksa ke AHLINYA. Seks adalah sesuatu yang baik karena dapat
meningkatkan sistem imun dan energi, juga mengurangi stres.
Mitos Seks #9 - Tanpa orgasme berarti seks anda sangat buruk
Suksesnya hubungan seks yaitu jika kedua pasangan betul-betul menikmati dan
tidak tergantung pada orgasme. Begitu yang diyakini para pakar. Anda juga’kan?
Mitos Seks #10 - Seks selama kehamilan bisa melukai calon bayi
Kebanyakan wanita hamil bisa memiliki kehidupan seks yang sehat. Namun, ada
dua kekecualian, jika Anda mengalami plasenta previa (ari-ari menutupi jalan
lahir), seks bisa menyebabkan perdarahan dan kelahiran prematur. Juga sebaiknya
tidak berhubungan seks jika si wanita mengalami pendarahan atau kontraksi
setelah bercinta. Hal ini bisa menyebabkan kelahiran prematur. Sabar, Ya!
Mitos Seks #11 - Berhubungan seks di masa menstruasi tak
menimbulkan kehamilan
Masa ovulasi (subur) pada wanita adalah 14 hari sebelum masa haid, bukan
14 hari setelah haid terakhir. Jadi kemungkinan terjadinya kehamilan tetap ada.
So, hati-hati!
Sumber : Budaya Hidup Sehat